INDAHNYA MENYANTRI
KAMIS,7 SEPT 2017
Ketika muda-mudi memikirkan menjadi sarjana dengan cara kuliah,
ternyata masih ada muda-mudi lain yang memikirkan jadi santri dengan
cara mondok di dayah. kehidupan santri dan mahasiswa sudah tentu jauh
berbeda sosial maupun pendidikannya. Penulis bukan bermaksud
membandingkan antara keduanya namun tulisan ini hanya sebatas pengalaman
penulis alami.Banyak anggapan dayah persis penjara, karena setiap langkah dan gerak berada di bawah peraturan yang sangat ketat. Hal itu tidaklah salah. Karena demikian adanya. Namun, bagi santri hal itu bukanlah sebuah problem.
Awal mula melihat dalam konteks sosial, di pondok tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, anak pejabat dan anak petani. Kemandirian dan kehematan benar-benar dipraktikkan. Senang sama-sama dibagi dan susah sama-sama ditanggung, begitulah prinsip santri. Tidak ada istilah guru bisa melakukan bagaimana kehendaknya, karena peraturan semua terikat, teks dan nilai nyata terlaksana.
Juga Kedisiplinan, hal ini bukan sekadar teks namun sudah jadi pakaian mereka, shalat jamah tepat waktu, makan teratur dan tidur pun waktunya ditentukan. Hidup terlihat susah, nyatanya kebahagiaan selalu dirasakan. Kala hari besar Islam sebut saja maulid, isra’ mi’rad atau hari lainnya para santri begitu senang dan bahagia seakan-akan hari itu syurganya bagi mereka.
Begitupun pendidikan, rajin dan semangat merupakan sesuatu yang diprioritaskan. Mereka gunakan banyak waktu untuk belajar, siang malam selalu haus akan pengetahuan. Di tengah malam orang sibuk dengan tidur namun mereka sibuk dengan belajar, tiap ruangan terdengar hafalan kitab dibaca keras-keras. Tak ada yang terganggu.
Setiap guru ditekankan untuk mendidik bukan sekadar mengajar, dengan artian “mendidik” itu berusaha dengan sungguh agar santri bisa paham, sedangkan maksud “mengajar” adalah mereka sekadar karier tanpa usaha sungguh-sungguh dalam menjadikan santri bisa paham. Tidak cukup dengan ilmu saja namun ta’dhim (adab) juga jadi perhatian besar. ‘Adab itu di atas ilmu’ kata Rasul. Banyak cerita, orang a’lim namun tanpa ta’dhim akhir kisah ilmu yang didapatkan sia-sia. Saydina Ali karamallah wajhah mengatakan: Saya adalah budak bagi orang yang mengajari saya akan satu ilmu. saya boleh dijual, dibebaskan atau jadi pekerjanya (Ta’limu Muta’lim, hal 16). Ucapan ini banyak dijadikan pondasi awal bagi santri, karena sebagian orang ketika dirinya seakan-akan lebih hebat dari gurunya niscaya penghormatan dan kemuliaan akan pudar.
Dari pengalaman ini jelas kemuliaan mereka, namun ada di antara kita masih sangat rendah kehormatan yang kita berikan. Yang parahnya fitnah masih berkeliaran di mulut kita terlebih di bulan suci Ramadhan seperti “awak pajoh peng meunasah! Ini yang sering di dengar. Padahal Allah dan Rasul sangat memuliakan bagi mereka orang a’lim, seharusnya kitalah yang lebih memuliakannya. Wallahu A’lam Bissawab.
(F..N)
